Flu Babi Dalam Pandangan Islam
Semua hal datangnya dari Allah. Siapapun yang ddak meyakini akan hal ini, dia bukanlah seorang muslim. Semua orang yang memiliki mata dapat melihat dengan jelas, bahwa penyakit baru ini muncul karena kutukan dari Allah untuk Amerika. Mujahidin dan mereka yang mendukung perjuangannya tetvs-menerus meminta kepada Allah untuk menghancurkan Amerika. Allah menjawabnya. Kini, mereka (Amerika) telah dihancurkan secara militer, secara ekonomi, dan kini dihancurkan dengan penyakit baru yang penyebarannya sangat cepat. Semoga Allah melindungi para Muslim yang berada di negeri-negeri Barat dari virus tersebut dan semoga virus tersebut mampu menghaneurkan seluruh musuh Allah sehingga pemerintah Amerika tidak lagi mampu melakukan pergerakan melawan ummat Islam!
Kepala Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat tengah bersiap-siap jika flu babi menjadi pandemik di negaranya. Sekretaris Janet Napolitano mengatakan kepada media, bahwa WHO sedang beroperasi pada level tiga, dengan level enam dinyatakan sebagai pandemik. Dia mengatakan para pejabat WHO melakukan pertemuan untuk meyakinkan kenaikan tingkat.
Napolitano melanjutkan AS sedang dalam proses mempersiapkan diri jika negaranya menjadi pandemik flu babi. Virus ini muncul di Meksiko lalu menyebar ke Amerika Serikat dan sekitarnya dengan 40 kasus yang telah dilaporkan di AS. Masyarakat dunia perlu menyadari haramnya mengkonsumsi babi dalam Islam. Islam adalah satu-satunya jalan yang dapat menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat.
Sebagai tambahan, Amerika perlu menyadari bahwa pemerintahannya sedang berperang melawan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam "perang melawan teror" yang mereka operasikan.
Dan siapa saja yang menentang Allah, maka Allah akan memberikan yang setimpal di dunia dan akhirat. Menurut berita yang kami dapatkan dari AZ Jaaeera, virus flu babi ini pun telah menjangkiti Israel. Kami memohon kepada Allah untuk terus menghukum Amerika, serta sekutu kentalnya, Israel.
Di awal April 2009, dunia kembali dibuat resah dengan menyebamya flu babi (Virus Influenza tipe AIH 1 N 1) yang sampai saat ini, diperhitungkan telah memakan korban lebih dari 170 orang meninggal dunia Walaupun kasus flu babi yang dilaporkan berawal dari Meksiko ini belum memakan korban sebanyak kasus dengan virus serupa pada tahun 1918 di Spanyol (Kasus Spanish Influenza.) yang merenggut nyawa sekitar 40-50 juta orang di seantereo dunia, namun efek domino sudah mulai dirasakan. Hal ini utamanya terkait dengan berkurangnya lalu lintas perdaganagan antar negara.-negara dunia disebabkan adanya kekhawatiran menyebarnya pandemik flu babi sehingga menyebabkan terganggunya sektor ekonomi.
Flu babi merupakan penyakit pernafasan yang sering diidap oleh babi. Biasanya virus flu babi ini tidak mudah menular pada manusia apalagi sampai menyebabkan kematian. Babi yang mengidap flu ini persentase kematiannya hanya sekitar 1-4% saja (berdasarkan data WHO).
Gejala flu babi pada manusia umumnya serupa dengan gejala infeksi virus influenza yang biasa menyerang manusia yakni demam lebih dari 37,8 derajad celcius, sakit tenggorokan batuk, pilek, sakit kepala dan nyeri.
Presentasi klinis tipikal infeksi flu babi pada manusia yang serupa dengan influenza biasa dan infeksi saluran pernafasan atas yang lain itu membuat sebagian besar kasusnya tidak terdeteksi dari surveilans influenza sehingga kejadian penyakit ini pada manusia secara global belum diketahui.
Flu babi yang saat ini menyerang masyarakat meksiko berbeda dengan flu biasa yang diderita manusia dan babi. Flu ini terdiri dari genetik babi, burung dan manusia, dimana jenis baru ini bisa menular antar manusia.
Infeksi influenza. babi pada manusia beberapa kali pernah dilaporkan terjadi. Manusia biasanya tertular flu babi dari babi dan, meski sangat sedikit, dari orang yang terinfeksi karena berhubungan dengan babi atau lingkungan peternakan babiKasus penularan flu babi dari manusia ke manusia sendiri terjadi dalam beberapa kasus namun masih terbatas pada kontak dekat dan sekelompok orang saja.
Flu babi ini pun berefek hingga ke sektor perdagangan. Seperti yang dikatakan oleh Bendahara Ga.bungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumut, Laksamana Adiyaksa, di Medan,"Munculnya flu babi diperkirakan bisa menekan permintaan minyak hewani di pasar dan beralih ke minyak nabati khususnya minyak sawit (CPO) dan itu bisa mendongkrak harga CPO lagi,"
Pemerintah Indonesia pun juga memutuskan menghentikan impor daging babi untuk sementara. Selain itu, juga akan dilakukan pemeriksaan terhadap 9 juta babi yang ada di Indonesia. Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari yang mendampingi Aburizal saat rapat koordinasi lintas sektor kewaspadaan terhadap penyebaran wabah flu babi di Ruang Rapat Menko Kesra, Jakarta, menjelaskan, virus flu babi tidak bisa hidup dalam suhu panas sehingga diharapkan tidak masuk ke Indonesia. Virus babi yang saat ini menjangkit adalah gabungan antara virus babi Asia dan virus tabi Eropa, flu burung, dan flu influensa dari manusia yang bermutasi.
Di luar permasalahan tersebut bahwa terda.pat perkiraan para ahli influenza secara histori yang menyatakan, pandemi influenza terjadi setiap 11 sampai 42 tahun. Sebagai kaum muslimin yang diserahi amanah untuk memberikan rahmat kepada alam semesta dengan membawa Syariat
Islam, kita juga perlu melakukan penelaahan terhadap kasus-kasus pandemi yang ada di dunia. Tidak hanya dalam masalah kedokteran dengan mengupayakan adanya obat yang dapat menyembuhkan penyaklit akibat virus tersebut sebagai kewajiban kifayah kaum muslim, tidak hanya dalam masalah ekonomi dan keuangan untuk memberikan anggaran guna pencegahan dan pengobatan, namun juga secara politik membongkar apa sebenarnya yang terjadi terkait pandemi-pandemi yang beredar di dunia.
Dalam sebuah buku berjudul "Deadly Mist", Upaya Amerika Merusak Kesehatan Manusia" Jerry D. Gray, seorang mualaf warga negara. AS keturunan Jerman yang pernah bergabung di dinas Angkatan Udara AS dan kini menetap di Indonesia secara gamblang memaparkan peran AS dalam pembvatan zat-zat biologi dan kimia yang berbahaya bagi manusia, seperti MSG, Aspartam (gula buatan), fluoride, dan zat-zat mematikan lainnya. Penggunan senjata biologi bahkan sudah dilakukan dalam penaklukan benua Amerika untuk "memusnahkan" orang-orang Indian, penduduk ash benua tersebut.
Dalam buku tersebut Gray juga memaparkan kospirasi jahat dibalik penyebaran virus AIDS, Antrax, sampai flu burung dan membeberkan bahwa bibit-bibit penyakit itu telah dengan sengaja dikontaminasikan pada manusia sebagai uji coba bahkan untuk kepentigan industry obat-obatan mereka untuk meraup keuntungan. Yang lebih kejam lagi, AS juga tega menjadikan rakyatnya sendiri sebagai target uji coba bahan kimia dan biologi berbahaya buatan mereka.
Dalam kasus flu babi, ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan. Pertama, kasus ini muncul di meksiko hanya selang satu minggu setelah Presiden Barack Obama mengunjungi Meksiko yang itu berarti pula datangnya ribuan anggota secret service. Kedua, kasus pertama flu babi terjadi di kota Perote Veracruz di negara. Meksiko di sebuah peternakan babi yang luas milik perusahaan Amerika. Ketiga, efek pengalihan perhatian dunia dari kasus krisis keuangan global yang berawai dari Amerika sebagai lokomotif keuangan. Keempat, efek pasar vaksin yang dapat diciptakan dari kepanikan penduduk dunia dan pertanyaan tentang siapa yang memiliki kemampuan untuk prduksi vaksin.
Lalu, adakah flu babi yang sedang mewabah ini merupakan bagian dari konspirasi jahat itu? Wallahu alam bi showab. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita dari segala bentuk kejahatan dan penyakit, serta senantiasa memberikan petunjuk pada kita yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah.
Solusi Islam
Sebagai sebuah sistem yang paripurna, Islam memiliki solusi atas berbagai problematika yang melingkupi dunia. Dalam kasus flu Babi, ada beberapa solusi yang dapat dilakukan oleh Islam :
Pertama, Islam memiliki aturan yang rinci mengenai perbuatan termasuk makanan dan minuman manusia. Untuk perbuatan manusia, belaku kaidah syara' "Hukum asal perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum Syara'. Sehingga tidak satu pun perbuatan manusia yang tidak ada hukumnya dalam pandangan Islam. Terkait makanan, berlaku kaedah syara' : Hukum asal atas benda adalah ibadah (boleh) selama tidak ada dalil yang mengharamkannya", Daging Babi diharamkan oleh Allah dalam firmannya :
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk; dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihrryd dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.
-QS. A1 Maidah [S]: 3¬
Pengharaman makanan sifatnya pasti dan tidak mengandung illat (sebab diturunkannya sebuah hukum) sehingga tidak perlu dicari apa alasan pengharamannya. Sedangkan fakta ditemukannya realitas bahwa babi merupakan hewan yang menjadi tempat mutasi virus, gennya berbahaya bagi tubuh manusia, tempat hidup cacing pita, tidak dapat dijadikan alasan pengharamannya namun hanya menjadi hilanah yang dapat terjangkau oleh akal manusia atas pengharaman babi. Alasan mendasar babi haram adalah karena Alah telah menetapkannya sebagai barang haram.
Kedua, Islam melarang warga negaranya untuk memperdagangkan barang-barang yang diharamkan oleh aturan Islam kepada publik dengan sifat terbuka. Barang yang haram hanya mungkin beredar di wilayah privat warga negara non-muslim yang syariat agamanya memperbolehkan penggunaan barang tersebut. Negara menetapkan pembatsan-pembatasan terhadap penjualan barng haram dan secara ketat mengawasi peredarannya.
Ketiga, Islam melarang negara yang menerapkan Islam secara Kaffah (Daulah Islam) bergantung pada negara kuffur dalam permasalahan pokok warga negaranya. Masalah pokok tersebut dalam Islam terbagi menjadi 6 Bagian, yaitu : Sandang, Papan, Pangan, Pendidikan, Kesehatan, dan Keamanan. Oleh sebab itu, Syariat Islam memberikan aturan bahwa terdapat kewajiban kifayah bagi masyarakat Islam untuk menguasai bidang-bidang penting bagi masyarakat. Dalam rangka kemandirian kesehatan, maka negara wajib membangun fasilitas-fasilitas kesehatan secara independen yang tidak berada dibawah hegemoni organisasi lain, baik itu nasional maupun internasional seperti contohnya : WHO.
Keempat, mendapatkan fasilitas kesehatan adalah hak masing-msing warga negara sehingga negara wajib mengadakannya secara cuma-cuma. Ini berarti, penanganan terhadap berbagai macam penyakit yang diderita masyarakat sepenuhnya merupakan tanggung jawab negara. Kelima, Daulah Islam secara terorganisir meng4imkan orang-orang terbaiknya untuk mendapatkan informasi dari negara-negara lainnya (operasi intelejen). Upaya negara lain untuk mempergunakan senjata biologis (bioweapon) terhadap negara dapat diartikan tantangan perang terhadap negara dan wajib dijawab dengan jihad.
Beberapa solusi diatas hanya dapat terwujud saat kaum muslimin memahami Islam tidak terbatas ritual saja, namun merupakan pandangan hidup yang melahirkan solusi. Hal ini semua dapat dilakukan bila kaum muslimin menerapkan Islam secara kaffah di dalam segala lini kehidupan. Tanpa itu semua, kaum muslimin hanyalah bangsa-bangsa yang tidak berdaya.
Jumat, 04 Juni 2010
Flu Babi Dalam Pandangan Islam
Pertumbuhan Hukum Islam di Indonesia
1. Masa Kedatangan Islam di Indonesia
Berbicara tentang pertumbuhan hukum Islam di Indonesia, kita tidak dapat melepaskan diri dari persoalan kapan dan bagaimana masuknya agama Islam di Indonesia. Hal ini penting untuk dikemukakan agar kita dapat memperoleh gambaran betapa bangsa kita menyambut agama ini sampai menjadi salah satu agama yang terbesar penganutnya.
Persoalan kapan dan bagaimana masuknya agama Islam di Indonesia ini terdapat dua pendapat.
Pendapat pertama, yang dipelopori oleh golongan Orientalis, berpendapat, bahwa agama Islam masuk di Indonesia pada permulaan abad ke XIII Masehi yang dibawa oleh orang-rang Persia ke Gujarat India, kemudian pedagang-pedagang Gujarat India ini membawanya ke tanah air kita. Salah seorang diantara mereka adalah Sir Thomas Arnold dalam bukunya The preaching of Islam, mengemukakan bahwa Islam datang ke Indonesia. Sebagai bukti di kemukakan, bahwa bentuk, bahan dan tulisan yang terdapat pada makam raja-raja Hindustan. Lagi pula menurut beliau Islam yang dianut di Indonesia lebih mirip dengan Islam di Gujarat daripada Islam di tanah Arab sendiri.
Pendapat kedua, dipelopori oleh cendekiawan Islam Indonesia, antara lain Buya Hamka, (t.t IV : 22), berpendapat, bahwa agama Islam masuk ke Indonesia dibawa langsung dari negeri Arab oleh bangsa Arab sendiri pada abad ke VII M.
Kedua pendapat tersebut di atas masing-masing mengemukakan alasan-alasan yang kuat sehingga yang mana diantara keduanya yang benar terserah pada penilaian kita masing-masing. Setelah kita ketahui kapan dan bagaimana caranya agama Islam masuk dan berkembang di Indonesia, sekarang akan dibicarakan bagaimana proses pengislaman selanjutnya setelah agama Islam masuk ke Indonesia.
Sejarah telah membuktikan, bahwa mulanya proses pengislaman di Indonesia berlangsung tanpa disadari, tiba-tiba mengalami perkembangan yang pesat dan cepat walaupun harus diakui bahwa pada waktu itu memang sudah ada isme-isme yang menguasai alam pikiran bangsa Indonesia, misalnya isme tradisional dan agama Hindu.
Perkembangan yang sangat pesat dan dinamis ini, ditunjang oleh beberapa faktor yang menentukan, antara lain:
a. Adanya sifat demokratis agama Islam itu sendiri, dimana tidak mengenal perbedaan antara rakyat biasa dan kaum bangsawan, tegasnya tidak mengenal perbedaan antara rakyat biasa dan kaum bangsawan, tegasnya tidak mengenal kelas-kelas dan kasta-kasta dalam masyarakat..
b. Prosedur untuk menjadi pemeluk agama Islam tidak berbelit-belit atau tidak begitu sulit.
c. Agama islam gampang menyesuaikan diri/berasimilasi dengan keadaan-keadaan setempat.
d. Pribadi dan akhlak orang-orang islam sangat tinggi, sehingga dengan gampang saja mengadakan hubungan antara satu dengan lainnya, yang menyebabkan terjadinya satu ikatan yang timbale balik yang sangat menguntungkan terutama sekai di lapangan perdagangan.
Dalam bidang perdagangan, Islam berkembang melalui beberapa macam cara antara lain dengan mengadakan kontak secara pribadi dengan raja-raja yang berkuasa termasuk keluarga raja-raja disertai dengan pemberian hadiah-hadiah istimewa sehingga para raja itu tertarik kepada agama Islam. Masuknya para raja itu sbeagai pemeluk agama Islam merupakan eksponen utama didalam menarik rakyatnya menjadi pemeluk agama Islam. Selanjutnya rakyat biasa yang telah menganut agama islam mengadakan pula hubungan dengan daerah-daerah lainnya yang biasanya sekaligus bertindak sebagai juru dakwa sehingga agama Islam menyebar sampai ke pelosok pedesaan.
Penyebaran agama Islam pada mulanya hanya melalui dua tempat, yaitu Sumater Utara (Aceh) dan pesisir pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Timur (rembang, Tuban dan Gresik). Dari sumater Utara, Islam menyebar ke pdelaman Minangkabau (Sumatera barat) sedang di Sumater Selatan agama islam berkembang melaui Banten.
Di pulau Jawa, agama Islam berkembang dan menyebar melalui kelompok orang-orang penyebar agama Islam yaitu para wali, diantaranya yang terkenal dengan sebutan Wali Songo (wali Sembilan). Dengan perantara mereka inilah Islam berkembang di Demak, Pajang, Mataram dan anten, akhirnya sampai merata di seluruh pulau Jawa.
Dari pulau Sumatera dan Jawa, agama Islam berkembang keseluruh pelosok tanah air pada abad-abad berikutnya. Di Sulawesi Selatan sendiri agama Islam mulai berkembang pada abad ke XVI M yang dibawa oleh pedagang-pedagang dan penyebar-penyebar Islam yang diperkirakan berasal dari Pahang, Campa, Minangkabau dan Johor (J. Noordaya, 1972:11).
2. Zaman Pemerintahan Hindia Belanda
Pada waktu pemerintahan Hindia Belanda mulai berkuasa di tanah air kita, hukum Islam telah berkembang sedemikian pesatnya. Hal ini dapat dibuktikan, bahwa di daerah-daerah yang penduduknya mayoritas beragama Islam, disitu pengaruh Islam (termasuk hukumnya) sangat menonjol, bahkan menurut sejarah jauh sebelum Belanda menginjakkan kakinya di Indonesia, hukum Islam pernah dinyatakan berlaku sebagai hukum positif dibeberapa kerajaan Islam di Indonesia.
Di samping hukum Islam, hukum adat sebagai suatu system hukum juga berlaku di tengah-tengah masyarakat sebagai hukum yang tumbuh dan berkembang berdasarkan alam pikiran bangsa Indonesia. Antara kedua system hukum itu dalam perkembangannya saling pengaruh mempengaruhi, seolah-olah diantara keduanya terjadi sinkronisasi. Mungkin berdasarkan kenyataan inilah, sehingga timbul anggapan dari pemerintah Hindia Belanda yang memandang hukum asli dari bangsa Indonesia adalah terdiri dari hukum agama.
Anggapan seperti ini mempengaruhi pula pemerintah Inggris yang pernah juga berkuasa lebih kurang 5 tahun (1811 – 1816) di bawah pimpinan Thomas Stafford Raffles, yang berpendapat bahwa hukum adat yang berlaku bagi bangsa Indonesia berasal dari hukum agama, sehingga dalam proses peradilan, jaksa dan penghulu keduanya bertugas member advis menurut hukum adat yang disangkanya identik dengan hukum agama.
Setelah Belanda kembali menjajah Indonesia ( sesudah penjajahan Inggris), maka berdasarkan anggapan tersebut lahirlah teori Receptio in Complexu oleh Mr. L.W.C. Van Den Berg, penasehat hukum Islam pemerintah Hindia Belanda yang pada dasarnya berbunyi :
Resepsi hukum Hindu oleh kaum Hindu, hukum Nasrani oleh kaum Nasrani dan Hukum Islam oleh kaum Islam. Selama bukan sebaliknya dapat dibutikan, menurut ajaran ini hukum pribumi mengikuti hukum agamanya oleh karena adalah konsekuensi baginya, bahwa memeluk suatu agama harus pula mentaati hukum-hukumnya dengan setia. (Tentang teori ini lihat juga pembahasannya waktu membicarakan tentang bidang-bidang /lapangan-lapangan hukum Islam).
Sebagai reaksi dari teori ini keluar pula teori Receptie, dari C. Snouck Hurgronje yang beranggapan, bahwa berlakunya hukum Islam sekedar setelah diresepsi oleh hukum adat. Jelas sekali, bahwa teori receptive ini bertujuan membatasi berlakunya hukum Islam serta menghalangi perkembangnya di Indonesia.
3. Masa Sesudah Kemerdekaan
Sesudah proklamasi kemerdekaan, perkembangan hukum Islam lebih maju lagi disbanding dengan keadaannya pada tahun-tahun sebelum kemerdekaan.
Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 menyebutkan : Negara Republik menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan kepercayaannya itu.
Sebagai salah satu wujud pelaksanaan dari kemerdekaan beragama sebagaimana tercantum pada pasal 29 ayat (2) tersebut, maka pada tanggal 3 Januari 1946 dibentuklah Departemen Agama yang bertugas mengurus perbagai bidang yang menyangkut masalah-masalah keagamaan (termasuk hukum agama) di Indonesia.
Selasa, 01 Juni 2010
FILSAFAT
FILSAFAT YUNANI
MASA SEBELUM SOKRATES
Dalam sejarah filsafat biasanya filsafat Yunani dimajukan sebagai pangkal filsafat barat. Ini memang ada alasannya, karena dunia barat (Eropa barat) dalam alam fikirannya berpangkal kepada pikiran Yunani. Di tanah Yunani, atau setidak-tidaknya di daerah yang dimasukkan ke wilayah Yunani, adalah sudah lama sebelum permulaan tahun masehi ahli-ahli pikir yang mencoba menerka teka-teki alam.
Filsuf alam
Oleh karena filsuf-filsuf itu berusaha mencari inti alam, dalam sejarah mereka disebut filsuf alam dan filsafatnya dinamai filsafat alam. Sepanjang pengetahuan kita ahli pikir yang berusaha mencari intisari alam melalui pikiran belaka itu yang tertua adalah terdapat pada kota Miletos, pada abad keenam sebelum masehi. Nama-nama yang terkenal ialah :
THALES (624-548) berpendapat bahwa dasar pertama atau intisari alam ialah air.
ANAXIMANDROS mengatakan bahwa dasar pertama itu ialah zat yang tak tertentu sifat-sifatnya, yang dinamainya toaperion.
Adapun ANAXIMENES (590-528) mengatakan, bahwa intisari alam atau dasarnya pertama ialah udara. Karena udaralah yang meliputi seluruh alam serta udara pulalah yang menjadi dasar hidup bagi manusia yang amat diperlukan oleh nafasnya.
PITAGORAS (532) lain pula pendapatnya. Menurut dia dasar segala sesuatunya ialah bilangan, sehingga orang yang tahu dan mengerti betul akan bilangan, tahu jugalah ia akan segala sesuatunya.
Filsafat menjadi
HERAKLEITOS (535-475) mengalami bahwa di dunia ini segala sesuatunya berubah. Tak adalah sesuatu yang tetap, dikatakannya semuanya dalam keadaan menjadi. Untuk dasar atau arche dunia semesta diterimanya api, karena sifat api itu selalu bergerak dan berubah dan tidak tetap. Malahan ditarik kesimpulan lebih lanjut, bahwa yang menjadi sebab atau keterangan yang sedalam-dalamnya itu ialah gerak, perubahan atau menjadi itu. Semuanya lewat dan tak ada yang tetap. Pendapat ini dirumuskan dengan istilahnya sendiri: panta rhei artinya: ‘semua mengalir’. Satu-satunya realitas ialah perubahan, tak terdapat yang tetap, realitasnya ialah berubah atau menjadi itu. Sebab itu filsafat HERAKLEITOS disebut orang juga ‘filsafat menjadi’.
Filsafat ada
Sebagai kebalikan filsafat HERAKLEITOS ialah filsafat PARMENIDES (540-475). Ia dilahirkan di Elea, maka itu penganut-penganutnya disebut kaum Elea. Parmenides mengakui adanya pengetahuan yang bersifat tidak tetap dan berubah-ubah itu, serta pengetahuan mengenai yang tetap: pengetahuan indra dan pengetahuan budi. Tetap menurut dia pengetahuan indra itu tak dapat dipercayai, karena berapa kalikah ternyata bahwa orang tidak mencapai kebenaran sebab mengikuti indranya?. Ia mengatakan: pengetahuan itu adalah dua macam, ialah pengetahuan sebenarnya dan pengetahuan semu.
Kaum Elea
ZENO dari MELISSOS mempertahankan benar kesatuan ada ini dan mengingkari benar gerak. Zeno misalnya mencoba membuktikan bahwa gerak itu sebenarnya tak ada dan tak mungkin. Jika sekiranya terdapat gerak, tak mungkinlah ACHILLES (seorang jago lari dalam dongeng Yunani) akan mengejar kura-kura, jika kura-kura itu sudah berangkat lebih dulu. Sebab jika ACHILLES harus bergerak, maka selalulah ia hanya dapat mengurangi setengah dari jarak yang sudah ditempuh kura-kura itu. Tiap-tiap kali dikurangi setengah, selalu ada sisanya, jadi ACHILLES tak pernah dapat menyusul kura-kura.
EMPEDOKLES (490-435). Dalam bukunya tentang alam dikatakan oleh EMPEDOKLES bahwa sebenarnya tak ada menjadi dan hilang. Jadi ia mengikuti PARMENIDES. Adapun perbedaan dalam seluruh keadaan itu tak lainlah daripada campuran dan pergabungan unsur-unsur (rizomata): air, udara, api dan tanah.
ANAXAGORAS (499-428). Filsuf ini mengikuti EMPEDOKLES tentang teorinya dalam pergabungan dan perpisahan. Unsur bukanlah keempat unsur EMPEKDOKLES itu, melainkan amat banyak biji (Spermata) yang berjenis-jenis sifatnya.
DEMOKRITOS (460-370). Teori bagian-bagian kecil seperti pendapat ANAXAGORAS diajarkan juga, tetapi bagian itu sebutannya menurut DEMOKRITOS ialah atomos. Arti kata ini sebenarnya: tak dapat dibagi. Atomos ini menurut DEMOKRITOS tidak dapat dibeda-bedakan karena sifatnya, hanya karena bilangannya.
MASA SOKRATES
Perkembangan filsafat di Yunani amat pesat jalannya daripada kebijaksanaan ini menjadi kata sehari-hari. Banyak orang yang mengikuti pelajaran dan pidato ahli pikir atau pencipta kebijaksanaan itu.
Sofisme
Berhubungan dengan minat orang terhadap filsafat timbullah sifat baru. Timbul orang-orang yang menamai dirinya kebijaksanaan, mereka tidak berusaha mencari kebijaksanaan. Oleh karena itu mereka tak mungkin keliru lagi.
Ada juga diantara kaum sofis yang berfilsafat serta mengutarakan pendapatnya, misalnya GORGIAS (480-380). Menurut dia tak terdapat sesuatu yang ada. Jika sekiranya terdapat yang ada itu, kita toh tak dapat tahu akan ada itu. Jika sekiranya tahu juga, kita toh tak mungkin memberitahukan.
Masa antropologis
Oleh karena hingga zaman SOKRATES ini minat ahli pikir terarahkan terutama kepada alam, ada yang menamai masa itumasa alamatau masa kosmologis. Dengan timbulnya sofisme pikiran filsuf-filsuf terarahkan juga kepada manusia dengan kemampuannya berpikir, juga kepada tingkah-lakunya. Disana-sini orang mencoba mencari dimana letaknya kebaikan dan keburukan, jadi mencari norma tingkah laku. Tidak diakui ada norma yang umum bagi semua orang: jika subyek merasa baik, itulah yang baik, sedangkan yang dianggapnya jelek, itulah yang jelek. Norma adalah subyektif. Pada masa ini mulai masa antropologis.
Sokrates
Ahli pikir yang amat besar pengaruhnya dalam dunia filsafat ini ialah SOKRATES. Ia dilahirkan di Atena (469), bapaknya seorang juru pahat dan ibunya seorang bidan. Kata orang SOKRATES amat jelek parasnya. Isterinya bernama XANTIPPE amat judes perangainya. SOKRATES amat cerdas pikirannya dan berpendidikan tinggi. Seorang peramah yang memberikan ajarannya kepada pemuda-pemuda dikotanya dan caranya ialah dengan tanya jawab (dialoge). Ajaran SOKRATES pun lain pula dan dianggap oleh para ‘bijaksana’ itu berbahaya, maka diadukanlah SOKRATES dimuka hakim atas tuduhan: ia merusak jiwa pemuda dan mengajarkan kepercayaan baru. SOKRATES dijatuhi hukuman mati serta minum racun pada tahun 399.
Ajarannya
Ajarannya SOKRATES dipusatkan kepada manusia. Ia mencari pengertian yang murni dan sebenarnya: pengertian sejati. Adapun caranya ialah dengan mengamat-amati yang kongkrit dan bermacam-macam coraknya dan setelah kemudian dihilangi yang berbeda dan muncul yang sama, maka timbullah pengertian yang sejati itu.
Pembentukan pengetahuan atau pengertian sejati itu amat penting dan perlu, untuk mencapai kebajikan. Orang yang tahu benar-benar, demikian SOKRATES, tentulah berkebajikan pula.
Jadi filsafat itu dipusatkan oleh SOKRATES pada manusia. Dan terutama pada tingkah-lakunya: filsafat tidak lain dari usaha melalui pengertian (sejati) untuk mencapai kebajikan.
MASA SESUDAH SOKRATES
PLATO
PLATO meninggalkan banyak tulisan, baik yang merupakan filsafat maupun yang harus dimasukkan kepada golongan kesusasteraan. Bahasanya amat baik dan penuh isi pikiran yang luhur. Tidak selalu amat mudah diikuti.
Ia dilahirkan pada tahun 427 dari keluarga bangsawan, kemudian mengikuti ajaran SOKRATES dengan taat. Sepeninggalan gurunya banyak buku yang ditulisnya. Terutama ialah : Pembelaan SOKRATES, Georgias, Meno, Syimposion, Politica, Siphistes, hukum.
PLATO mencoba mencari penyelesaian dalam soal lama, yaitu tentang pertanyaan: hanya terdapat yang berubah-ubahkah (HERAKLEITOS) atau yang tetapkah (PARMENIDES). Manakah yang benar, pengetahuan indra ataukah pengetahuan budi?
Mengingat dua pengetahuan yang bermacam-macam itu, boleh dikatakan bahwa manusia itu masuk dalam dunia dua, yaitu dunia pengalaman dan dunia yang tetap yang disebutnya dunia idea. Yang ada di dunia idea itu ialah idea, sifatnya: satu dalam macamnya, tetap dari itu tidak berubah-ubah. Idea-idea itu merupakan suatu yang sungguh-sungguh ada: realitas.
Menurut PLATO dunia pengalaman ini merupakan bayang-bayang dari dunia idea itu.
ARISTOTELES
ARISTOTELES dilahirkan di Stagira pada tahun 384, untuk menyelesaikan pendidikannya pergilah ia ke Atena dan tinggal disitu selama 20 tahun sebagai murid PLATO. Karya ARISTOTELES amat banyak dan terwariskan kepada kita. Ia bukan saja ahli filsafat, akan tetapi ahli semua ilmu yang terkenal pada waktu itu.
Biji ajaran ARISTOTELES tentang logika berdasarkan atas ajaran tentang jalan pikiran (ratiocinium) dan bukti. Jalan pikiran itu baginya berupa syllogismus, yaitu putusan dua yang tersusun demikian rupa sehingga melahirkan putusan yang ketiga. Untuk mempergunakan syllogismus dengan seksama. Harus diketahui benar-benar sifat putusan. Tiap-tiap putusan itu terdiri dari pengertian.
Ajaran ARISTOTELES tentang fisika dan metafisika umum (ontologia) tidak selalu dapat dibeda-bedakan atau dipisah-pisahkan. Yang penting bagi kita ialah metafisiknya.
Menurut ARISTOTELES yang sungguh-sungguh ada itu bukanlah yang umum, melainkan yang khusus, satu persatu. Bukanlah manusia pada umumnya yang ada melainkan manusia ini atau manusia itu. Bagi ARISTOTELES pengetahuan itupun ada dua macam, ialah pengetahuan indra dan pengetahuan budi. Kedua-duanya adalah pengetahuan yang sesungguhnya, kedua-duanya mungkin benar, mungkin sesuai dengan obyeknya.
HELENISME
EPIKURISME
Nama Epikurisme berasal dari tokoh aliran yaitu EPIKUROS (341-270). Filsafat EPIKUROS hanya diarahkan pada satu tujuan, yaitu: memberi kebahagiaan kepada manusia. Jadi yang diutamakan etika, adapun yang menjadi dasar etika ini logika dan fisiknya.
Ajarannya tentang logika dan fisiknya adalah sebagai berikut : sumber pengetahuan – menurut EPIKUROS – ialah pengalaman: pengalaman berkali-kali dapat mengakibatkan pengertian. Pengertian ini dapat membawa orang pada pengetahuan tentang dasar-dasar yang sedalam-dalamnya dan tersembunyi.
S T O A
Yang menjadi tokoh Stoa bernama ZENO (336-264). Ia memberikan ajarannya dalam gang antara tiang-tiang (stoa poikile), itulah sebabnya maka aliran ini disebut Stoa. Bagi Stoa pun pengetahuan ini berdasarkan pengalaman ini, tetapi tidaklah terdapat yang umum itu. Yang sungguh-sungguh ada ialah yang tercapai oleh indra itu saja.
Menurut Stoa tak adalah dunia lain daripada dunia pengalaman yang jasmani ini, hanya dunia itu sajalah yang sungguh-sungguh ada. Dalam pada itu ada dua unsur: yang pasif, yaitu bahan sebenarnya dan yang aktif, yaitu budi yang dapat meresap pada segala-galanya. Tetapi budi itu jasmani, berbahan, semacam fluidum yang menjiwai segala badan dan bahan.
NEOPLATONISME
Yang dianggap menjadi pelopor dari neoplatonisme seorang yang hidup sesudah permulaan abad Masehi, jadi kenal benar akan aliran-aliran agama yang ketika itu sudah berkembang, yaitu Katolik.
Filsafat PLOTINOS – demikian nama tokoh neoplatonisme – mendasarkan pendapatnya pada filsafat PLATO terutama dalam ajarannya tentang idea tertinggi baik atau kebaikan. Itulah sebabnya maka filsafat PLOTINOS merupakan platonisme. Adapun baru-nya akan ternyata dalam uraian di bawah ini :
PLOTINOS menuju pengalaman batin dan persatuan dengan Tuhan. Dunia ini bukanlah tujuan pikiran seperti yang dulu-dulu, melainkan hanya alat untuk mencapai persatuan tersebut, tapi sebaliknya juga merupakan bahaya.
FILSAFAT INDIA
I. VEDISME
Isi Veda itu semuanya bersangkutan dengan upacara agama, terutama korban. Dalam agama mereka korban itu amat penting. Ada korban bagi perseorangan, ada yang bagi umum, seluruh masyarakat. Kalau diantarkan korban umum ini, ada pengorban resmi dan sudah dari dahulu kala ada golongan pengorban resmi itu, karena jabatan pengorban resmi ini turun-temurun. Korban resmi demikian itu biasanya besar-besaran dan persediaannya pun tidak sedikit pula. Mulai dari persediaan itu orang harus memperhatikan aturan-aturan upacara tertentu: setelah tempat untuk berkorban itu disediakan, maka disediakan korban atau persembahan yang bermacam-macam jenisnya: padi, beras, puhan, mentega dan lain-lain, biasanya hasil bumi atau ternaknya.
Berhubung dengan upacara-upara pengorbanan ini, Veda itu digolong-golongkan menjadi empat golongan:
1. Rig veda inilah yang tertua dari semua veda, berisi pujian.
2. Sama-veda berisi nyanyian-nyanyian yang dinyanyikan oleh utgatar, waktu orang menyediakan minuman untuk korban yang amat penting itu.
3. Yuyur-veda: berisi mantra-mantra dalam bentuk prosa, biasa dipergunakan dalam pengorbanan yang sebenarnya.
4. Atharva-veda: berisi uraian dan doa-doa yang harus dikenal para brahmana.
Dalam pada itu orang sadar benar akan adanya aturan dalam alam ini. Segala alam ini terkait benar oleh hukum yang tertentu, ada dan terjadinya mengikuti aturan. Tidak dalam alam saja, bahkan dalam masyarakat pun hukum dan aturan ini tidak dapat diabaikan: ada hubungan tertentu antara anak dan orang tuanya, suami dan isterinya, pembesar dan bawahannya dan seterusnya. Adapun hukum dan aturan ini disebut Rita. Rita ini bukanlah dewa di samping dewa yang lain. Ia meliputi segala-segalanya, baik dewa maupun dunia seisinya. Terkait oleh rita itu. Rita ini tak berkehendak dan tak berbudi: itu aturan dan hukum yang tidak dapat dan tidak boleh diabaikan atau dilanggar.
II. BRAHMANISME
Ahli-ahli pikir yang merenungkan manusia, alam serta dengan dewa-dewi itu menjumpai hal-hal yang tidak memuaskan baginya. Misalnya dalam korban: orang yang berkorban kepada dewa-dewa itu boleh dikata dapat memaksa dewa itu supaya mengabulkan permohonannya. Siapakah yang kuasa, manusia yang berkorban ataukah dewa? Dapat diambil kesimpulan, bahwa manusia yang berkorbanlah yang lebih kuasa. Kalau ditinjau lebih lanjut lagi, maka bukan manusianya yang kuasa, melainkan korbannya, sebab tanpa korban itu manusiapun tak dapat berbuat apa-apa. Jadi yang terkuasa dalam segala hal sebenarnya korbanlah, yang disebut dalam bahasa Sansekerta: brahma.
III. BUDISME
Walaupun di tanah kita, lebih-lebih dalam percakapan sehari-hari, ajaran BUDA itu disebut agama, yang kami bentangkan disini bukanlah agamanya, melainkan sifat filsafatnya. Memang dalam Budisme terutama kemudian banyaklah gejala-gejala yang mengharuskan kita menyebut aliran itu agama, akan tetapi pada permulaannya Budisme ini menurut hemat kami merupakan usaha yang mencari kebebasan dari ikatan dunia ini. Dasar filsafatnya pun tidak lain daripada unsur yang terdapat pada Samkhya.
Pusat aliran ini didasarkan atas keyakinan bahwa segala sesuatunya yang ada di dunia ini terliputi oleh sengsara. Adapun sengsara itu mempunyai satu sebab, yaitu cinta (dalam arti sebenarnya dan seluas-luasnya, dari ‘ingin’ sampai ‘berusaha mencapai’) yang disebut trisna. Trisna in akibat kekeliruan atau ketidaktahuan (avidya). Sebab itu, jika kita hendak bebas, haruslah kita membelakang ketidaktahuan itu serta menghadap pengetahuan. Jalan ke arah kebebasan selalu melalui pengetahuan, melalui kebenaran.
FILSAFAT EROPA
I. ABAD PERMULAAN
Oleh karena agama itu meliputi keseluruhan manusia dan dapat dipahami pula bahwa bagi orang yang beragama, agama itu sesuatu yang amat utama, dapat juga dipahami, bahwa dalam kalangan orang di Eropa yang menganut agama baru ini dalam alam pikiran mereka ada unsur baru pula. Adapun unsur ini ialah unsur firman Tuhan atau wahyu. Dalam filsafat Yunani orang memang sengaja hendak mencari kebijaksanaan melalui budi belaka, serta bagi orang-orang katolik itu, orang Yunani teranglah tidak berfilsafat menurut atau berdasarkan wahyu, karena mereka tak kenal akan wahyu sejati, sebab ketika itu wahyu injil memang belum diturunkan. Walaupun demikian haruslah diakui, bahwa filsafat Yunani memang menghasilkan suatu pandangan hidup atau pandangan dunia.
PATRISTIK
Di Eropa kalangan yang berfilsafat dengan memperhatikan atau mempersoalkan unsur baru berhubung dengan kepercayaan mereka. Memang mereka mengatakan renungannya itu terutama dihubungkan dengan agamanya dan bagi mereka agamalah yang paling utama. Akan tetapi juga tidak boleh disangkal bahwa mereka berfilsafat juga dalam arti kata yang dulu kami rumuskan. Kebanyakan di antara mereka memegang pimpinan di masyarakat. Katolik (gereja) dan menurut istilah mereka pemimpin-pemimpin itu disebut bapa, (bapa: Latin – Pater). Aliran dalam abad permulaan di Eropa ini disebut dalam sejarah: ‘patristik”
Seorang yang ketika itu berpengaruh besar dalam alam pikiran patristic ialah TERTULIANUS (160 – 222). Ia dilahirkan di Kartago dan kemudian memeluk agama Kristen di Roma.
Menurut dia filsafat (Yunani) telah diganti oleh wahyu. Kebenaran dan kebijaksanaan itu hanya terdapat dalam Kitab Suci. Sebaliknya TERTULIANUS toh tidak mengingkari daya budi sama sekali. Budi dapat juga mencapai kebenaran. Menurut dia budi misalnya dapat mengetahui adanya Tuhan serta jiwa yang tak kenal mati.
Ajaran Agustinus (354-430) lebih memperlihatkan sistem yang merupakan keseluruhan. Dalam logikanya AGUSTINUS memerangi skepsis. Skepsis itu, menurut pendapatnya mengandung pertentangan, mengandung kemustahilan. Skepsis menganjurkan serba keragu-raguan tentang segala-galanya.
Apakah manusia itu? Pertanyaan ini dijawab oleh AGUSTINUS demikian: menurut badannya manusia itu termasuk alam jasmani, tetapi karena jiwanya ia termasuk rohani. Oleh karena ia jasmani, terikatlah ia, harus mengalami perubahan, sengsara dan terlibat dalam waktu. Sebaliknya oleh karena ia temrasuk alam rohani, maka dengan budinya ia mencari kebenaran yang baka’ dan dengan kehendaknya mencari kebaikan yang sempurna.
II. ABAD PERTENGAHAN
SCHOLASTIK
Kerusuhan dan kesulitan politik pada bagian dunia yang sekarang kami sebut Eropa selatan dan Afrika utara melenyapkan kerajaa-kerajaan yang ada di situ dengan kebudayaan-kebudayaannya sekali. Ketenteraman politik lama tidak stabil. Ketika Karel Agung berkuasa di Eropa, kembalilah ketenteraman yang agak lama. Agama Katolik sudah tersebar di bagian besar tanah Eropa serta telah terdapat pula dalam masyarakat Katolik itu organisasi yang teratur, baik dalam menyebarkan benih agamanya maupun dalam memperdalam pengetahuan agamanya.
Ada yang mengatakan bahwa scholastic itu filsafat yang berdasarkan atas agama atau kepercayaan. Pendapat yang demikian itu sebetulnya sudah mengingkari sifat filsafat scholastic, jika pembatasan kami yang kami majukan dalam pendahuluan buku ini diterima.
III. ABAD PERALIHAN
Renaissance
Karena datangnya sarjana-sarjana Yunani di Eropa, timbullah diEropa minat orang terhadap kebudayaan. Yunani pada khususnya dan kebudayaan kuno pada umumnya. Orang mau mengembalikan kebudayaan kuno itu di dunia, itulah yang dianggapnya kebudayaan yang sempurna. Masa ini terkenal dalam sejarah sebagai lahirnya kembali zaman kuno atau renaissance. Dalam pada itu filsafat pun tak ketinggalan. Orang tidak lagi memusatkan pikirannya kepada Tuhan dan surge, melainkan kepada dunia saja dan dalam dunia itu yang merupakan pusat utama ialah manusia.
IV. ABAD MODERN
RASIONALISME
Orang yang amat besar pengaruhnya dalam abad-abad sesudah hidapnya ialah seorang Perancis bernama DESCARTES (CARTESIUS) dilahirkan pada tahun 1596. Ia menerima didikan scholastic, tetapi tak puaslah ia akan ajarannya dan metodosnya.
DESCARTES merasa benar-benar ketegangan dan ketidakpastian yang merajalela ketika itu dalam kalangan filsafat. Scholastic tak dapat memberi keteranganyang memuaskan kepada ilmu dan filsafat baru yang dimajukan ketika itu kerapkali bertentangan satu sama lain. Filsafat menjadi kacau, demikian pendapat DESCARTES. Adapun tidak adanya kepastian itu karena menurut dia tak ada pangkal yang sama, tak ada metodos. Maka dari itu baiklah rasanya, jika ia mencari metodos yang sama sekali baru untuk mencapai kepastian itu.
EMPIRISME
Sementara itu ilmu terus maju, hasil penyelidikannya dapat menolong umat manusia, kemajuan dianggap orang tak berhingga. Anggapan orang terhadap filsafat amat berkurang, sebab dianggap sesuatu yang tak berguna, pasti dan benar itu diperoleh orang melalui indranya. Empirislah yang memegang peranan amat penting bagi pengetahuan, malahan barangkali satu-satunya dasar pendapat di atas itu disebut empirisme.
Lebih terang bahwa sungguh-sungguh menganut empirisme ialah JOHN LOCKE (1632-1704). Anak seorang ahli hukum. Walaupun sebenarnya suka akan teologi dan filsafat, akan tetapi karena keadaan ketika itu menyulitkannnya, ia belajar untuk dokter serta penyelidikan kimia.
LOCKE hendak menyelidiki kemampuan pengetahuan manusia, sampai kemanakah ia dapat mencapai kebenaran dan bagaimanakah mencapainya itu.
KRITICISME
Pada rasionalisme dan empirisme ternyata lagi amat jelas pertentangan antara budi dan pengalaman, manakah yang sebenarnya sumber pengetahuan, manakah pengetahuan yang benar?.
Seorang pada zaman modern yang amat masyhur serta cerdas budinya mencoba mengadakan penyelesaian antara pertikaian ini, yaitu filsuf Jerman IMMANUEL KANT (1724-1804). Pada mulanya KANT mengikuti rasionalisme, kemudian menurut katanya sendiri ia terjagakan oleh HUME (empirisme) dari impiannya, rasionalisme. Tetapi sebaliknya empirisme tidaklah diterimanya begitu saja, karena diketahuinya bahwa empirisme membawa keragu-raguan terhadap budi. KANT mengakui kebenaran ilmu, ia mengakui bahwa budi dapat mencapai kebenaran.
V. ABAD KONTEMPORER
IDEALISME
J.G. FICHTE (1762-1814). Filsafatnya sering disebut orang filsafat identitas yang berdasarkan idealisme, (KANT) dan monism. Aku yang otonom dan merdeka itu, demikianlah FICHTE, menempatkan diri (thesis) menjadi sadar dan dalam pada itu aku itu menempatkan obyek di hadapannya ialah bukan-aku. Ini disebutnya anti-thesis. Bukan-aku ini adanya tergantung kepada aku, karena merupakan pertentangan belaka. Adapun fungsinya tidaklah lain daripada merupakan pertentangan belaka. Adapun fungsinya tidaklah lain daripada merupakan rintangan yang harus diatasi (oleh aku), batas yang harus dilewati dan saat yang harus dipergunakan aku untuk selalu berkembang.
TRADISIONALISME
Perkembangan filsafat di Prancis agak berlainan. Di sana orang mengalami revolusi yang amat hebat. Apa-apa yang dahulu dianggap suci dan baik ditumbangkan dan timbullah pengingkaran atas wahyu dan agama. Ada beberapa orang yang mengatakan sebagai reaksi, bahwa kegoncangan dalam kesusilaan dan kepercayaan ini karena orang mendewa-dewakan budi atau rasio.
POSITIVISME
Sementara itu timbullah di Prancis juga aliran yang disebut orang positivism, yang ditokohi oleh A. COMTE (1798-1857). Menurut dia supaya ada masyarakat baru yang teratur, haruslah lebih dahulu diperbaiki jiwa atau budi. Adapun budi itu menurut COMTE mengalami tiga tingkatan, dan tingkatanitu terdapat juga pada hidup tiap-tiap manusia, pun pada sejarah ilmu semua.
Tingkat pertama ialah tingkat teologi yang menerangkan segala-galanya dengan pengaruh dan sebab-sebab yang melebihi kodrat; tingkat kedua adalah tingkat metafisika yang hendak menerangkan segala sesuatunya melalui abstraksi; tingkatan yang ketiga ialah tingkatan positif yang hanya menghiraukan yang sungguh-sungguh serta sebab-akibat yang sudah tertentukan.
EVOLUSIONISME
Seorang yang dalam ilmu amat banyak pengaruhnya hingga sekarang ialah ahli biologi DARWIN (1809-1882). Ia memajukan dan mempertahankan teori perkembangan untuk segala sesuatu, pun manusia. Dengan demikian manusia itu sekarang ini hanya hasil yang tertinggi dari perkembangan tersebut serta teratur oleh hukum-hukum mekanik.
Sebenarnya evolusi DARWIN ini dari sudut filsafat tidak amat banyak bedanya dari positivism tentang pendapatnya mengenai pengetahuan. Hanya yang dialami sajalah yang sungguh-sungguh. Lainnya itu bukanlah kesungguhan atau sekurang-kurangnya manusia tidaklah tahu akan hal-hal yang mengatasi pengalaman.
FILSAFAT CHINA
Filsafat Cina.
Tema pokok dari filsafat dan kebudayaan Cina itu “perikemanusiaan”. Pemikiran Cina lebih antroposentris daripada filsafat India dan filsafat Barat. Filsafat Cina juga lebih pragmatis; selalu diajarkan bagaimana manusia harus bertindak supaya keseimbangan antara dunia dan surga tercapai.
Jaman Klasik
Jaman seratus sekolah filsafat, dengan – sebagai sekolah-sekolah terpenting – konfusianisme. Taoisme, Yin-Yang, Moisme. Dialektik dan Legalisme.
1) Konfusianisme
Konfusius (bentuk Latin dari nama “Kong-Fu-Tse”, guru dari suku Kung”) hidup antara 551 dan 497 SM. Ia mengajar bahwa Tao (“jalan” sebagai prinsip utama dari kenyataan) adalah “jalan manusia”. Artinya: manusia sendirilah yang dapat menjadikan Tao luhur dan mulya, kalau ia hidup dengan baik. Keutamaan merupakan jalan yang dibutuhkan . kebaikan hidup dapat dicapai melalui peri kemanusaiaan. Perikemanusiaan, “yen”, merupakan suatu model yang berlaku untuk semua orang. Secara hakiki semua orang sama walaupun tindakan mereka berbeda.
2) Taoisme
Taoisme diajarkan oleh Lao Tse (“guru tua”) yang hidup sekitar tahun 550 SM. Lao Tse melawan konfusius. Menurut Lao Tse bukan “jalan manusia” melainkan “jalan alam” lah yang merupakan Tao. Tao menurut Lao Tse adalah prinsip kenyataan obyektif, substansi abadi yang bersifat tunggal, mutlak dan tak ternamai. Ajaran Lao Tse lebih-lebih metafisika, sedangkan ajaran konfusius lebih-lebih etika.
Jaman Neo-Taoisme dan Buddhisme
Bersama dengan perkembangan Buddhisme di Cina konsep Tao mendapat arti baru. Tao sekarang dibandingkan dengan “Nirwana” dari ajaran Buddha, yaitu “transendensi di seberang segala nama dan konsep”, dia seberang adanya”.
Jaman Neo Konfusianisme
Dari tahun 1000 M Konfusianisme klasik kembali menjadi ajaran filsafat terpenting. Buddhisme ternyata memuat unsur-unsur yang bertentangan dengan corak berpikir Cina. Kepentingan dunia ini, kepentingan hidup berkeluarga dan kemakmuran material, yang merupakan nilai-nilai tradisional di Cina, sama sekali dilalaikan, bahkan disangkal dalam Buddhisme, sehingga ajaran ini oleh orang dialami sebagai sesuatu yang sama sekali asing.
Jaman Modern
Sejarah modern mulai di Cina sekitar tahun 1900. Filsafat memperlihatkan dalam periode in tiga tendensi. Pada permulaan abad kedua puluh pengaruh filsafat. Barat cukup besar. Banyak tulisan pemikir-pemikir Barat diterjemahkan dalam bahasa Cina. Aliran filsafat Barat yang paling populer di Cina adalah Pragmatisme, suatu jenis filsafat yang lahir di Amerika Serikat. Setelah pengaruh Barat ini mulailah suatu reaksi, yaitu kecenderungan untuk kembali ke tradisi-tradisi pribumi. Akhirnya, terutama sejak 1950, filsafat Cina dikuasai pemikiran Marx, Lenin dan Mao Tse Tung.
Ada tiga tema yang sepanjang sejarah dipentingkan dalamfilsafat Cina: harmoni, toleransi dan perikemanusaiaan. Harmoni antara manusia dan sesama, antara manusia dan alam, antara manusia surga. Selalu dicari keseimbangan, suatu jalan tengah dari emas antara dua ekstrem. Toleransi kelihatan dalam keterbukaan untuk pendapat-pendapat yang sama sekali berbeda dari pendapat-pendapat pribadi, suatu sikap perdamaian yang memungkinkan suatu pluriformitas yang luar biasa, juga dalam bidang agama. Perikemanusiaan, karena selalu manusialah yang merupakan pusat filsafat cina, manusia yang pada hakekatnya baik dan yang harus mencari kebahagiaannya di dunia ini dengan memperkembangkan dirinya sendiri dalam interaksi dengan alam dan dengan sesama.
Renesanse
Jembatan antara abad pertengahan dan jaman modern, periode antara sekitar 1400 dan1600, disebut “Renesanse” (jaman “kelahiran kembali”) dalam jaman renesanse kebudayaan klasik dihidupkan kembali. Kesusasteraan, seni dan filsafat mencari inspirasi mereka dalam warisan Yunani-Romawi. Filsuf-filsuf terpenting dari renesanse itu. N. Macchiavelli (1469-1527), Th. Hobbes (1588-1679). Th. More (1478-1535) dan Fr. Bacon (1561-1626).
Pembaharuan terpenting yang kelihatan dalam filsafat renesanse itu “antroposentrisme”nya. Pusat perhatian pemikiran itu tidak lagi kosmos, seperti dalam jaman kuno, atau Tuhan, seperti dalam Abad pertengahan, melainkan manusia. Mulai sekarang manusialah yang dianggap sebagai titik fokus dari kenyataan.
KAJIAN KRITIS TENTANG AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA LOKAL
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Meskipun Indonesia merupakan salah satu negara yang muslimnya mayoritas di dunia, namun paling sedikit mendapat pengaruh arabisasi, dibandingkan dengan negara-negara muslim besar lainnya. Itulah sebabnya, dua ciri paling utama dalam kesenian Islam yakni arabesk dan kaligrafi, paling sedikit mempengaruhi budaya Indonesia.
Selain itu, dalam proses Islamisasi di nusantara, penyebaran agama dan kebudayaan Islam tidak menghilangkan kebudayaan lokal dan tidak menggunakan kekuatan militer dalam upaya proses Islamisasi. Hal itu disebabkan karena proses Islamisasi dilakukan penetrasi secara damai melalui jalur perdagangan, kesenian, dan perkawinan dan pendidikan.
Hasil islamisasi dengan cara demikian menghasilkan praktik sinkritisme yang luas. Salah satu indikasinya adalah sistem penanggalan Jawa, yang mempertahankan asal usul Hindu kalender Shaka, tetapi mengubah sistem penanggalannya berdasarkan nama-nama penanggalan Islam.
Untuk mengetahui hal itu, pertama-tama kita harus memahami dalam konteks budaya Indonesia, dimana pernah mengalami apa yang dinamakan dualism kebudayaan, yaitu antara budaya keratin dan budaya populer di tingkat bawah (masyarakat). Dua jenis kebudayaan ini sering dikategorikan dalam kebudayaan tradisional. Untuk kepentingan pembahasan ini, kita akan melihat bagaimana pengaruh Islam di kedua bentuk kebudayaan tradisional itu.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka pembahasan pokok dalam makalah ini, adalah fokuskan pada aspek-aspek berikut ini:
1. Apa yang dimaksud dengan akulturasi ?
2. Benarkah ada unsur antara Islam dengan budaya lokal setempat ?
3. Meliputi apa saja bentuk akulturasi antara Islam dengan budaya lokal setempat ?
4. Mengapa Islam yang datang ke Indonesia sebagai pembawa tamaddun, dan peng Esaan Tuhan, tetap melibatkan budaya lokal dan bersifat akomodatif dalam proses islamisasi di nusantara.
C. Metode Pendekatan dan Analisis
Metode pendekatan yang digunakan adalah metode fisiologis, teologis, historis dan sosiologis kultural. Metode ini di pakai untuk menelaah, mengkaji, menganalisis hubungan-hubungan konsul antara fakta-fakta sejarah mengenai kajian kritis terhadap proses akulturasi antara Islam dan budaya lokal.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Akulturasi
Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia “akulturasi” adalah percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi atau proses masuknya pengaruh kebudayaan asing dalam suatu masyarakat, sebagian menyerap secara selektif sedikit atau banyak unsur kebudayaan asing itu.
Dari pengertian akulturasi ini, maka dalam konteks masuknya Islam ke Nusantara (Indonesia) dan dalam perkembangan selanjutnya telah terjadi interaksi budaya yang saling mempengaruhi. Namun dalam proses interaksi itu, pada dasar kebudayaan setempat yang tradisional masih tetap kuat, sehingga terdapat suatu bentuk perpaduan budaya asli (lokal) Indonesia dengan budaya Islam. Perpaduan inilah yang kemudian disebut akulturasi kebudayaan.
2. Latar Belakang Sejarah sebagai Bukti Adanya akulturasi Islam dan Budaya Lokal
Sebelum Islam datang ke Indonesia, di Nusantara (Indonesia) telah berdiri kerajaan-kerjaan yang bercorak Hinduisme dan Budhisme. Seperti kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Akan tetapi setelah proses islamisasi dimulai sejak abad ke XIII, unsur agama Islam sangat memegang peranan penting dalam membangun jaringan komunikasi antara kerajaan-kerajaan pesisir dengan kerajaan-kerajaan pedalaman yang masih bercorak Hindu-Budha. Misalnya di daerah pesisir utara Jawa, kerajaan-kerajaan yang berdiri umumnya diperintah oleh pangeran-pangeran saudagar. Mereka takluk kepada raja Majapahit. Tetapi setelah raja-raja setempat memeluk agama Islam, maka mereka menggunakan Islam sebagai senjata politik dan ekonomi untuk membebaskan diri sepenuhnya dari kekuasaan Majapahit.
Setelah runtuhnya Majapahit 1520 M; di daerah pesisir proses Islamisasi berjalan sangat intensif hingga akhirnya berdirilah kerajaan-kerajaan Islam seperti, Demak, Banten dan Cirebon. Namun dalam segi pemahaman aqidah Islam, tidak serta merta mantap, dan melenyapkan alam pikiran filsafat lama, seperti Hindu dan Budha. Mereka memang mengucapkan kalimat Syahadat, akan tetapi kenang-kenangan dan praktik-praktik kepada kepercayaan kepada Bata Guru, Batara Wisnu, Dewata Sewwa’E , dan lain masih tetap hidup. Disinilah muncul kecenderungan sinkritisme. Dengan demikian, maka Islam yang berkembang di pedalaman Jawa berbeda dengan Islam yang berkembang di pesisir adalah Islam yang mobilitas sosialnya tinggi dan mengikuti perkembangan dunia Islam (orthodox).
Setelah kerajaan Majapahit runtuh, maka muncul penggantinya di daerah pedalaman, muncullah kerajaan Mataram Islam tahun 1575 M. Karena masa peralihan yang lama antara kerajaan Islam pedalaman dan Islam pesisir, menyebabkan mereka saling berebut pengaruh yang menyebabkan terjadinya peperangan. Sultan Agung (1613 – 1645 M) dari kerajaan Mataram berusaha merebut kekuasaan kerajaan pesisir, sehingga unsur agama memegang peranan kembali, yakni di mata kerajaan-kerajaan pesisir kesultanan Mataram adalah kerajaan Islam yang sinkritisme. Di keraton kesultanan berkumpul segolongan pujangga yang mencampuradukkan antara Islam dengan Hindu, seperti terbukti pada Babad tanah jawi yang mengandung pencampuran Islam dengan Hinduisme. Dalam kisah babad tanah jawi di katakan bahwa, adapun raja-raja jawa berasal dari Nabi Adam yang mempunyai anak Sis, seterusnya mempunyai anak Nurcahya. Lalu Nurasa, kemudian Sang Hyang Wening, seterusnya sang Hyang Tunggal, dan akhirnya dijumpai Batara Guru yang gilirannya mempunyai Batara Wisnu sebagai salah seorang puteranya yang kemudian menjadi raja jawa dengan nama Pabru Set. Inilah sebuah contoh sinkritisme yang tidak disenangi oleh para alim ulama dan sultan-sultan pesisir. Sebagai bentuk kepeduliannya, maka para ulama di pesisir giat memasuki daerah pedalaman, melakukan gerakan dakwah di daerah kerajaan Mataram, menyerukan perlawanan rakyat terhadap Sultan Agung.
Dari kisah Babad Tahan Jawi itu, maka kita dapat melihat bahwa telah menyebabkan terjadinya pertentangan antara kerajaan Islam di pesisir dengan sikap ortodoksnya , dengan kerajaan Islam pedalaman yang sinkritisme. Disinilah awal munculnya pertentangan antara Islam Sinkritisme dan ortodoks dalam arti telah terjadi pergumulan antara mempertahankan kemurnian akidah dengan pencampuran akidah yang dilakukan oleh kerajaan Islam di pedalaman(Hindu Budha kedalam Islam) demi mempertahankan pemburuan hegemoni kekuasaannya. Oleh karena itu, dalam menyikapi akulturasi budaya analisis dari perspektif sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia. Karena dalam proses Islamisasi di Indonesia tidak berjalan satu arah, tetapi banyak arah atau melalui berbagai macam pintu. Pintu-pintu itu, misalnya melalui kesenian, pewayangan, perkawinan, pendidikan, perdagangan, aliran kebatinan, mistisisme dan tasawuf. Ini semua menyebabkan terjadinya kontak budaya, yang sulit dihindari unsur-unsur budaya lokal masuk dalam proses Islamisasi di Indonesia. Oleh karena itu kita sebagai muslim, harus punya sikap kritis dalam melihat konteks akulturasi Islam dan budaya lokal dalam menelaah sejarah Islam di Indonesia. Kita harus punya pandangan, bahwa Islam itu bukanlah suatu sistem yang hanya membicarakan ke Tuhanan saja, tetapi yang tak kalah pentingnya adalah mengandung ajaran peradaban (tamaddun) yang komplit atau lengkap.
3. Konteks Sistem Budaya Indonesia (sebuah bentuk akulturasi)
A. Budaya Keraton
Perlu dipahami bahwa dalam konteks budaya Indonesia, pernah mengalami apa yang dinamakan dualism kebudayaan, yaitu budaya keraton dan budaya populer. Dua jenis kebudayaan ini sering dikategorikan dalam kebudayaan tradisional . Untuk pembahasan ini, kita akan melihat bagaimana pengaruh Islam di kedua bentuk kebudayaan tradisional itu. Namun sebelumnya perlu dijelaskan bahwa ada tiga hal yang harus diperhatikan untuk mengenal kebudayaan. Pertama, siapa yang menciptakan kebudayaan; kedua, bagaimana bentuk-bentuk kebudayaan yang diciptakan itu, dan yang terakhir dampak apa yang ditimbulkan oleh kebudayaan itu.
Untuk konteks budaya istana atau budaya keraton, kebudayaan dikembangkan oleh abdi dalem atau pegawai istana, mulai dari pujangga sampai pandai bangunan (arsitek). Raja berkepentingan menciptakan simbol-simbol budaya tertentu dengan tujuan untuk melestarikan kekuasaannya. Biasanya bentuk-bentuk kebudayaan yang diciptakan untuk kepentingan itu adalah mitor. Di dalam sastra kerajaan, mitor-mitor itu dihimpun, misalnya dalam babad, hikayat, dan lontara . Hampir semua mitologi yang terdapat dalam bentuk-bentuk sastra, berisi cerita-cerita ajaib tentang kesaktian raja, kesucian, dan kekuatan-kekuatan supranatural. Sesungguhnya pengaruh yang hendak dicapai oleh penciptaan simbol-simbol budaya mitologis kerajaan ini, adalah agar rakyat senantiasa loyal, taat, dan patuh kepada kekuasaan raja. Sebagai missal, dalam babad tanah Jawi, raja digambarkan sebagai pemegang “wahyu” yang dengannya ia merasa sah untuk mengklaim dirinya sebagai wakil Tuhan untuk memerintah rakyatnya. Sultan Agung contohnya memiliki gelar Khalifatullah panatagama atau wakil Tuhan, di tanah jawa.
Selain mitos, budaya keraton juga memproduksi sastra mistik. Bila mitos ditujukan untuk mengukuhkan kekuasaan raja dan loyalitas rakyat, maka sastra mistik ditujukan untuk memberikan pengetahuan tentang kosmologi. Dalam hasanah mistik jawa misalnya, kita mengenal adanya sastra suluk yang menggambarkan konsep tentang – sangkan – paraning – dumadi, yaitu suatu konsep tentang realitas kosmos dan kedudukan manusia di dalamnya. Sastra-sastra mistik kerajaan semacam ini seolah-olah memberikan pesan, agar manusia dapat memahami dunianya dalam konteks kosmologi keraton.
Dua produk budaya yang bersifat mistis dan mistis yang diciptakan oleh keraton sama-sama bertujuan untuk mempertahankan Status quo kerajaan. Mitologi dan mistisisme keraton dalam rangka meligitimasikan kekuasaan mutlaknya dengan cara menciptakan silsilah genealogis, bahwa dia adalah keturunan dewa. Tapi anehnya, pada saat yang sama dia juga mengklaim sebagai keturunan para Nabi.
Yang menarik adalah bahwa ternyata betapa pun dalam kebudayaan keraton dominasi Hinduisme atau pun filsafat pra – Hindu terasa sangat kuat, namun pengaruh Islam pun meninggalkan bekas yang cukup kuat. Dalam silsilah genealogis raja-raja jawa, terlihat banyak sekali konsep yang dipinjam dari warisan mistik Islam. Meskipun raja Jawa diklaim sebagai keturunan para dewa suatu indikasi yang menunjukkan pengaruh Hinduisme, tapi akar genealogis teratas dilukiskan dalam konsep nur-roso dan nur-cahyo. Menurut silsilah keraton, nur-roso dan nur-cahyo inilah yang melahirkan Nabi Adam AS, dan dewa-dewa sebagai kakek moyang raja-raja jawa. Setelah nur-roso dan nur-cahyo, konotasinya bersifat jawa, tapi mengingatkan kita pada konsep Nur-Muhammad dalam khasanah mistik Islam. Jelas bahwa dari contoh ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa banyak budaya mistik Islam di pinjam oleh kebudayaan keraton Jawa; kendatipun ia justru dipakai untuk melegitimasi kosmologinya sendiri.
Demikianlah, di samping mewarisi tradisi filsafat Hindu atau pra- Hindu, budaya keraton Jawa, ternyata juga mewakili pengaruh Islam, betapa pun kita perlu mencatat adanya perdebatan tentang apakah yang terjadi adalah mistisme Jawa yang di Islamkan atau justru konsep-konsep Islam yang dijawakan.
Pertanyaannya sekarang; adalah bagaimana sikap kebudayaan keraton sendiri terhadap pengaruh Islam ini ? seberapa besar daya tahannya, dan seberapa besar pula pengaruh Islam terhadap pembentukan budaya jawa ? bagaimana tarik-menarik antara dua kekuatan budaya itu akhirnya menghasilkan sinkritisme ?
Dalam hubungan dengan konsep tentang kekuasaan, terlihat adanya perbedaan antara kebudayaan Jawa dan Islam. Dalam kebudayaan Jawa dikenal konsep mengenai kekuasaan mutlak raja. Sementara Islam menekankan konsep tentang raja yang adil, al-Malik-al-‘adl. Dalam Islam kekuasaan raja adalah keadilannya. Ini jelas berbeda dengan konsep jawa yang melihat kekuasaan dalam dimensi kemutlakannya.
Hal yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa budaya keraton di luar jawa memiliki konsep yang lebih dekat dengan gagasan Islam. Di Aceh, misalnya, raja memiliki sebutan sebagai al-Malik-al-‘adl. Ini berarti pula bahwa berbeda dengan kebudayaan keraton jawa yang lebih menekankan konsep kekuasaan, kebudayaan keraton di luar jawa lebih menekankan konsep keadilan.
Karena konsep kekuasaan mutlak yang diterapkan di dalam keraton jawa, maka timbullah dilema pertentangan antara jawa dengan Islam ketika proses islamisasi nusantara. Salah satunya yang terpenting adalah para persoalan tentang sosial kemasyarakatan. Konsep jawa mengenai ketertiban sosial lebih didasarkan pada konsep kekuasaan mutlak raja, sementara Islam mengajarkan bahwa ketertiban sosial masyarakat terjamin bila peraturan-peraturan syari’ah ditegakkan. Disinilah letak perbedaan yang sering menimbulkan ketegangan.
Contoh tentang konflik antara Syekh Siti Jenar dengan seorang raja dari Demak. Siti Jenar dikenal sebagai seorang wali yang cenderung mistik yang sangat kuat. Jalan tarikat yang dia tempuh sering menimbulkan ketegangan dengan ketentuan-ketentuan syariah yang baku. Sering dengan kekuatan mistiknya menyebabkan ia meremehkan hukum-hukum yang sudah diadopsi oleh kerajaan oleh karena itulah Siti Jenar di hukum mati dengan cara dibakar (meskipun pada akhirnya, dia tidak mati).
Dari uraian mengenai budaya keraton dalam menghadapi pengaruh budaya Islam cenderung bersifat defensive. Pada kaum bangsawan dan kalangan istana menerima pengaruh-pengaruh tertentu dari Islam selama pengaruh-pengaruh tersebut dapat diadopsi untuk status quo kekuasaan jawa, dan dapat ditundukkan dalam konsep kosmologinya. Inilah sikap yang tampak menjadi karakteristik budaya keraton jawa dalam berhadapan dengan Islam, suatu sikap yang berbeda diambil oleh budaya keraton di luar jawa yang cenderung menerima sepenuhnya pengaruh Islam sebagai unsur pembentukannya yang utama.
B. Budaya Populer (Masyarakat Biasa)
Sama halnya di dalam budaya keraton, dalam budaya populer (budaya rakyat) juga dikenal adanya cerita-cerita mitologis dan mistis. Cerita mengenai wali songo menjadi bukti hal ini. Sebagai contoh sunan kalijaga, dalam kisah-kisah dari pantai Utara Jawa begitu terkenal sampai orang mempercayai adanya sebuah batu bekas sujudnya. Kisah semacam ini adalah salah satu contoh dari mitologi Islam di jawa.
Cerita-cerita mengenai penyebaran Islam dalam masyarakat jawa, banyak sekali diwarnai oleh mitologi-mitologi semacam ini. Sampai sekarang misalnya, kita sering mendengar adanya kiyai-kiyai sakti yang dapat shalat di Mekkah dalam waktu sekejap untuk kemudian pulang kembali ke pesantrennya.
Yang lebih pentng di amati, adalah meskipun kadang-kadang pengaruh budaya populer Islam menjadi berwarna mistis, tapi pada perkembangan berikutnya kebudayaan populer di Indonesia banyak sekali menyerap konsep dan simbol-simbol Islam, sehingga seringkali tampak bahwa Islam muncul sebagai sumber kebudayaan yang penting dalam kebudayaan populer Indonesia . Disinilah Islam sebagai agama yang bersifat universal, dengan pandangan hidup, mengenai persamaan, keadilan, takaful, kebebasan dan kehormatan serta memiliki konsep teosentrisme yang humanistic sebagai nilai inti (core value) dari seluruh ajaran Islam, dan karenanya menjadi tema peradaban Islam.
Pada saat yang sama, dalam menerjemahkan konsep-konsep langitnya ke bumi, Islam mempunyai karakter dimensi, elastis, dan akomodatif dengan budaya lokal, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam itu sendiri. Permasalahannya terletak pada tata cara dan teknis pelaksanaan. Inilah yang diistilahkan oleh Gus Dur dengan “Pribumisasi Islam”.
Upaya rekonsiliasi memang wajar antara agama dan budaya di Indonesia dan telah dilakukan sejak lama serta bisa dilacak buktinya. Contoh Masjid Demak bentuk kongkret dari upaya rekonsiliasi atau akomodasi itu. Ranggon atau atap yang berlapis pada masa tersebut diambil dari konsep “Meru” dari masa pra Islam (Hindu-Budha) yang terdiri dari sembilan susun. Sunan kalijaga memotongnya menjadi tiga susun saja. Hal ini melambangkan tiga atap keberagaman seorang muslim; Iman, Islam, dan ihsan”. Pada mulanya, orang baru beriman saja kemudian ia melaksanakan Islam ketika telah menyadari pentingnya syariat; Barulah kemudian ia memasuki tingkat yang lebih tinggi lagi (ihsan) dengan jalan mendalami tasawuf, hakikat, dan ma’rifat. Hal ini berbeda dengan Kristen yang membuat gereja dengan arsitektur asing,, arsitektur Barat. Kasus ini memperlihatkan bahwa Islam lebih toleran terhadap budaya lokal. Budha masuk ke Indonesia dengan membawa stupa, demikian juga Hindu membawa kuil. Islam, sementara itu tidak memindahkan simbol-simbol budaya Islam Timur Tengah ke Indonesia. Hanya akhir-akhir ini saja bentuk kubah disesuaikan. Dengan fakta ini, terbukti bahwa Islam tidak anti budaya. Semua unsur budaya dapat disesuaikan dalam Islam.
Pengaruh arsitektur India misalnya, sangat jelas terlibat dalam bangunan-bangunan masjidnya, demikian juga pengaruh arsitektur khas mediterania. Budaya Islam memiliki begitu banyak varian.
Selain itu, yang patut diamati pula kebudayaan populer di Indonesia banyak sekali menyerap konsep-konsep dan simbol-simbol Islam sehingga seringkali tampak bahwa Islam muncul sebagai sumber kebudayaan yang penting dalam kebudayaan populer di Indonesia. Kota kata bahasa Jawa dan Melayu juga menyerap kata-kata atau istilah-istilah yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan. Istilah-istilah seperti wahyu, ilham atau wali misalnya, adalah istilah-istilah pinjaman untuk mencakup konsep-konsep baru yang sebelumnya tidak pernah dikenal dalam khazanah budaya populer. Demikian juga dalam ekspresi-ekspresi ritual, dan sosial dikenal upacara “tabut” (di Sumatera) untuk memperingati maulid Nabi, begitu juga di Jawa dengan upacara “Sekatennya”. Seni musik tidak kalah pentingnya, seperti : Terbangan, qasidah Rebana, dan gambus di daerah Jawa, Sumatera dan Sulawesi.
Dalam penggunaan istilah-istilah yang diadopsi dari Islam, tentunya perlu membedakan mana yang “Arabi-sasi”, mana yang “Islamisasi”. Penggunaan dan sosialisasi terma-terma Islam sebagai manifestasi simbolik dari Islam, tetap penting dan signifikan, serta bukan seperti yang dikatakan Gusdur, menyibukkan dengan masalah-masalah semu atau hanya bersifat pinggiran. Begitu penggunaan term shalat sebagai ganti dari sembahyang (berasal dari kata “nyembah Sang Hyang) adalah proses islamisasi, bukan arabisasi. Pola-pola seperti ini adalah merupakan karakter dasar Islam Nusantara.
Islam nusantara disebut sebagaisuatu entitas, karena memiliki karakter yang khas yang membedakan Islam di daerah lain, karena perbedaan sejarah, dan perbedaan geografis dan budaya yang dipijaknya. Selain itu Islam yang datang ke nusantara memiliki strategi dan kesiapan tersendiri, antara lain: Pertama, Islam datang dengan mempertimbangkan tradisi, tradisi berseberangan apapun tidak dilawan, tetapi diapresiasi, kemudian dijadikan sarana pengembangan Islam. Kedua, Islam datang tidak mengusik agama atau kepercayaan apapun, sehingga bisa hidup berdampingan dengan mereka. Ketiga, Islam datang mendinamisir tradisi yang sudah usang, sehingga Islam dapat diterima sebagai agama. Keempat, Islam menjadi agama yang mentradisi, sehingga orang tidak bisa meninggalkan Islam dalam kehidupan mereka.
Dengan fakta-fakta sejarah tersebut, maka dapat disaksikan agama Islam dipeluk atau dianut oleh seluruh masyarakat nusantara. Bagi mereka yang memperoleh pengetahuan keagamaan yang memadai, mereka menjadi Islam santri yang taat. Sementara bagi mereka yang kurang memperoleh pengetahuan keagamaan, disebut dengan Islam abangan; mereka secara ritual tidak taat, tetapi mereka kukuh memegang tradisi, yang semuanya telah bernuansa Islami.
Bagi kalangan Islam nusantara, mereka ini telah dianggap sebagai muslimin, sementara kelompok Islam yang lain menganggap mereka sebagai orang belum muslim. Ketegangan Islam dengan kelompok abangan ini tercermin dalam ketegangan kelompok Islam dan nasionalis.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kehadiran Islam ke nusantara tidak lepas dari nuansa, dimana Islam itu lahir. Sungguhpun demikian, ia mampu beradaptasi dengan kebudayaan lokal, dimana Islam itu datang. Proses persenyawaan keislaman dengan kenusantaraan, menjadikan Islam yang ada di nusantara ini, mudah diterima oleh masyarakat. Tidak ada resistensi; yang ada adalah penyambutan. Sungguhpun ada modifikasi, itu tidak lebih pada injeksi nilai-nilai keislaman dalam tradisi yang telah ada.
Dalam perkembangannya, Islam nusantara dengan wataknya yang moderat dan apresiatif terhadap budaya lokal, serta memihak warga setempat dalam menghadapi tantangan, menyebabkan Islam mudah diterima sebagai agama baru.
Bukti nyata dari proses persenyawaan antara Islam dan budaya lokal, dapat ditemukan dalam bentuk karya Babad, hikayat, lontara, sastra suluk, mitologi. Kemudian dari segi bentuk arsitektur bangunan-bangunan atap masjid Demak yang berlapis sembilan “dari Meru” pra Islam, kemudian diganti oleh Sunan Kalijaga menjadi tiga yang melambangkan Iman, Islam, dan Ihsan. Budaya selamatan, Maulid Nabi, Yasinan, Sekaten. Dalam istilah, seperti wahyu, wali, ilham; juga dalam bidang seni, seperti qasidah rebana, gambus, penggunaan istilah shalat untuk menggantikan istilah sembahyang, dari kata “nyembah” Sang Hyang (unsur Hindu)
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihan. Demi Dakwah. Bandung: Al-Maarif,1976.
Arif, Syaiful. NU Pasca Tradiri. Pergeseran Nilai Pasca Orde Baru. Jakarta: Tasywirul Afkar Lakpesdam, 2009.
Arnold, Sejarah Dakwah Islam (The Preaching of Islam). Terj. Nawawi Rambe. Jakarta: Bulan Bintang, 1976.
Hamkah, Sejarah Umat Islam, Jilid IV,Cet. Ke-3. Jakarta: Bulang Bintang, 1981.
Kunto Widjoyo. Paradigma Islam. Interpretasi untuk Aksi, Cet. Ke-7. Jakarta: Mizan, 1996.
Koentjaraningrat. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Cet. Ke-17. Jakarta: Djambatan, 1999.
Munawir, Imam. Kebangkitan Islam dan Tantangan yang Dihadapi. Jakarta: Bina Ilmu, 1984.
Mun’im DZ, Abdul. Meneguhkan Jangkar Islam Nusantara”. Tasywirah Afkar No.26 (2008): h. 7.
Nursyam. Islam Pesisir. Cet. I. Yogyakarta: LKis Pelangi Aksara, 2005.
Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam di Indonesia. Jakarta: LP3ES, 1980.
Majid, Nurcholis. Islam, Doktrin dan Peradaban, Cet. VI. Jakarta: Dian Rakyat dan Paramadina, 2008.
Soebardi. The Book of Cobolek”. The Haaq: Nijhoff, 1975.
Wahid, Abdurrahman, Pribumisasi Islam dalam Islam Indonesia Menatap Masa Depan, Cet. I. Jakarta: P3M, 1989.
Wahid, Abdurrahman, Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Islam dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, dalam Budi Munawar Rasnian, eds. Jakarta: Yayasan Paramadina, 1994.
